Senin, 03 November 2014

Sertifikasi guru...

Sertifikasi guru, katanya adalah penghargaan dari pemerintah bagi para guru.

Nominalnya cukup lumayan. Menggiurkan. Dengan mengesampingkan segala masalah yang muncul dalam proses pencairan dananya. Uang sertifikasi ini sangat membantu. Ayah saya sudah merasakan manfaatnya, menjelang masa pensiunnya.

Saya, masih muda dan tanpa pengalaman yang cukup untuk mendapatkan tunjangan profesional itu. Jadi saya hanya biaa melihat keripuhan para rekan lain yang sedang dalam proses penilaian kinerja guru untuk kepentingan cairnya tunjangan tersebut bulan depan. Saya perhatikan hampir sebagian besar waktu mereka tersita untuk mengisi segala perentelan dan tetek bengek pkg itu.

Saya hanya merasa, bukankah lebih baik waktu mereka digunakan untuk pengembangan diri dan persiapan pembelajaran? Dari pada mengisi segala form penilaian yang merepotkan yang pada akhirnya cuma jadi setumpuk berkas yang dilihat kelengkapannya saja?

Mungkin ada cara lain untuk PKG, saya pikir bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan super visi oleh kepala sekolah dengan standarisasi instrumen yang terintegrasi. Atau dengan sistem inspeksi terintegrasi. Rasanya terlalu muluk2. Entahlah. Mungkin juga ini hanya pandangan saya. Saya terbuka untuk melihat dari kaca mata lain.

Jumat, 31 Oktober 2014

Menemukan semangat yang sempat terhilang.

Gue hampir benar-benar melupakan alasan kenapa gue begitu bertahan di dunia pendidikan. Alasan kenapa ketika ditanya mau mendapatkan gelar master di bidang apa, gue menjawab "psikologi anak atau keluarga"

Dan akhirnya diingatkan lagi. Sekarang gue tau kenapa... kenapa gue ditempatkan di tempat gue sekarang adalah untuk mengingatkan gue tentang alasan gue bertahan menjadi ikan kecil di kolam besar berjargon pendidikan ini.

Gue menikmati kegiatan tadi, total chaos memang kalau dilihat dari luar.. gue dikelilingi anak2 dengan kategori nakal dan bernilai rendah untuk belajar dalam kelompok kecil. Gue merasakan kepuasan yang sudah lama hilang. Lama banget. Gue selama 2 tahun terakhir tersesat dalam belantara kolam besar dengan sirip ikan kecil yang kehilangan fokus dan passion. Sungguh menyedihkan.

Senangnya, gue sungguu bersyukur. Gue akan lebih berusaha. Semoga fokus dan passion gue nggak kabur lagi.

Selasa, 15 Juli 2014

Dari 2064 mdpl, gunung Burangrang.

Well... cukup lama tidak posting blog.
Beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa teman memutuskan untuk menjajal 'gunung belakang kampus'. Gunung Burangrang.

Gunung ini nggak begitu tinggi, 2064 mdpl tapi jalur pendakiannya cukup yahud.

sebelah jalur langsung jurang bro.... ini waktu turun siang-siang
Saya dan tiga orang teman saya berangkat. Meleset dari rencana awal yang akan berangkat siang hari, akhirnya kami melakukan pendakian malam. Beranjak dari titik awal di Kabupaten Bandung Barat pukul 18.17 kami tiba di puncak sekitar pukul 22.30

Ini bukan kali pertama saya mendaki gunung, tapi ini kali pertama saya mendaki dengan kondisi tubuh yang tidak fit dan tanpa perhitungan matang. Saya sedang dalam pengobatan sinusitis dan melakukan pendakian malam yang jelas-jelas mengharuskan saya untuk rebutan oksigen dengan tumbuhan. Jadinya, mau nggak mau, rela nggak rela saya mengalami gagal nafas.

Pendakian kali ini menjadi pengalaman pertama saya menjadi beban. Yah, semacam dead body, atau chain and ball dalam tim. Bisa dibilang dengan tipe darah O, dan kepribadian dominan. Saya adalah tipe yang tidak suka menyusahkan dan disusahkan oleh orang lain. Dan kali ini, luar biasa, saya harus berperan jadi beban.

Belum sampai setengah jam awal pendakian, saya sudah mengalami gejala gagal nafas. Saya harus berhenti untuk mengatur ritme nafas. Makin lama, makin parah, hampir setiap lima menit sekali saya harus berhenti sejenak untuk mengatur ritme nafas. Kondisi makin diperburuk dengan turunnya hujan lebat disertai angin yang cukup kencang. Sinus saya mulai berdenyut-denyut nyeri, berakibat saya mengalami nyeri kepala yang agak mengganggu. Kekhawatiran saya adalah, nyeri sinus ini memicu vertigo, dan gagal nafas ini memicu arrythmia.

Saya mencoba menghalau kemungkinan-kemungkinan itu dengan mengaplikasikan semua ilmu pernafasan yoga yang pernah saya pelajari. Syukur, saya berhasil sampai puncak dan turun lagi tanpa banyak masalah dan bisa berbagi sekarang.

Yang paling saya syukuri adalah teman-teman saya dalam pendakian. Sebut saja mereka BAN, RZ, dan RF. Banyak pelajaran berharga dan kejadian yang membuat saya semakin menghargai mereka sebagai sahabat saya yang berharga. Mereka tidak mengeluh karena kerepotan yang saya timbulkan karena harus berhenti secara berkala, RZ yang bersedia bertukar tas dengan saya. RF yang berjalan bersama saya dan tetap berhenti walau saya tahu carrier yang dia bawa berat pake banget. BAN yang akhirnya menggunakan webbing sebagai pegangan yang ceritanya untuk menarik kami, walau sebenarnya tidak efektif karena keripuhan kami dengan senter dan jalur licin.

Yang paling saya hargai adalah mereka bertiga nggak mengeluh. Saya nggak tahu dalam hati mereka mengeluh atau nggak, tapi yang jelas mulut mereka tidak melontarkan apapun yang negatif saat itu. I'll treasure them as my lifetime friends.

Dan banyak yang gue pikirkan selama perjalanan hampir mematikan buat gue saat itu. Tentang kehidupan dan persahabatan.

Saat sampai puncak, gue disuguhi pemandangan dua buah kabupaten yang sangat keren, kabupaten Purwakarta dan Bandung Barat. Great view, great air, fresh morning. dan DINGIN~

Tapi yang nggak akan gue lupakan seumur hidup adalah perjalanan naik yang menyiksa tapi nikmat itu, dan apa yang udah temen-temen gue lakuin buat gue.
I LOVE YOU, GUYS.
they are trully BFFs! asa spongebob? bae ah.. :D waktu turun ini.


Jumat, 09 Mei 2014

Yang Hilang dalam Penyederhanaan

Generasi yang sekarang adalah generasi Google, dengan dua ciri utama yaitu; empati yang sangat minim dan kebingungan dalam memilah informasi atau pengetahuan

-Prof. Dr. Daoed Joesoef, mantan Mendikbud Indonesia-

Tadi malam, saya menonton sebuah acara forum bicara yang sekilas terlihat sangat monoton. Peserta forum itu adalah empat orang purna usia, dengan teknik pengambilan gambar (ya, acara ini tayang di tv negeri) seadanya dan nggak banget deh.

Para purna usia itu saling mengobrol dengan santun, tanpa saling menyela satu sama lain meskipun memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain. Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk menonton mereka. Saya berhenti dari kegiatan menggonta-ganti channel dengan bosan karena saya membaca tema yang mereka bicarakan "PENDIDIKAN"

Salah satu topik yang mereka bicarakan adalah tentang generasi muda masa kini, "GENERASI GOOGLE" begitu mereka menyebutnya. Generasi yang menempel dengan gadget mereka tanpa memperdulikan orang lain dan mulai meninggalkan interaksi sosial demi interaksi sosial yang semu. Generasi yang kesulitan dalam membedakan informasi dan pengetahuan. Mereka mengganggap semua informasi yang disediakan di internet, yang bisa mereka dapatkan dengan mudah dengan mengetik di mesin pencari semacam GOOGLE adalah pengetahuan dan merasa bangga akan hal itu, padahal itu adalah sekedar informasi. (Prof. Dr. Daoed Joesoef)

Saya banyak berpikir tadi malam, akhirnya saya jadi menyetujui pendapat beliau. Mungkin saya pun bisa dikatakan sebagai generasi GOOGLE. Saya tak bisa membedakan pengetahuan dan informasi. Faktanya, saat saya mendengar pernyataan beliau, saya buru-buru meraih KBBI dan mencari arti kata pengetahuan dan informasi. Saat selesai membuka kamus, saya tertawa miris, menertawai diri sendiri. Pembelaan saya terhadap diri saya sendiri adalah GOOGLE pun bisa menyediakan pengetahuan, tergantung sikap kita menyikapi informasi yang tersedia. Pengkajian dan pemikiran berulang tentang suatu informasi dapat mengubah informasi itu menjadi pengetahuan. Well, tapi itu hanyalah pembelaan dari diri saya terhadap diri sendiri, saya belum menyandang gelar apapun, tidak juga melakukan pengkajian apapun untuk membuat pembelaan tadi menjadi suatu pernyataan yang valid.

Lalu masalah berkurangnya empati. Saya melihat banyak kasus yang mengarahkan saya pada kesimpulan bahwa anak-anak generasi GOOGLE cenderung memandang suatu hal dari satu sisi, dengan mengabaikan fakta bahwa setiap hal memiliki banyak sudut pandang. Contoh saja, sebuah kasus yang baru-baru ini meramaikan dunia maya. Kasus tentang seorang pemudi yang mengeluh di media sosial tentang ibu-ibu hamil yang manja dan meminta tempat duduk yang sudah susah payah ia perjuangkan. Ia memandang kasus itu dari sudut pandangnya sendiri tanpa memikirkan sudut pandang lain dan lalu mengeluh dengan membabi buta. Jika saja, ia dapat memikirkan minimal dua sudut pandang lain, saya yakin ia tidak akan mengeluh tentang hal itu.

Kasus lain; Suatu siang ketika saya dalam perjalanan pulang, terjadi kecelakaan di jalan raya. Kecelakaan itu melibatkan dua buah sepeda motor. Ketika saya sibuk membantu korban kecelakaan bersama beberapa orang tua yang ikut berhenti, saya melihat anak-anak berseragam abu-abu ikut sibuk di pinggir jalan. Tebak? Mereka sibuk memotret kami dan mungkin langsung mengunggahnya di sosial media mereka.
Dunia ini sudah mulai dipenuhi orang-orang bodoh dengan gadget pintar.

Saya adalah produk dari generasi peralihan, saya menghabiskan masa kecil dididik secara Dharmati (Dharma Society) dan masa remaja akhir memasuki era Digerati (Digital Society) (meminjam istilah J. Sumardianta). Saya tidak memungkiri, saya pun sangat memerlukan gadget-gadget pintar. Saya tidak bisa menghindari gadget-gadget pintar.
Karena saya adalah produk dari masa peralihan ini, saya menyadari beberapa hal. Hubungan antara manusia adalah hal yang kompleks dan menuntut dan Gadget menyulap relasi tersebut menjadi lebih mudah, sederhana, dan menyenangkan. Namun, pasti ada hal yang hilang dalam proses penyederhanaan. Dalam hal relasi antar manusia ini, banyak yang hilang.

Para purna usia yang membahas hal ini tadi malam, memberikan sebuah solusi bahwa pendidikan harus lebih maju dalam mengatasi hal ini. Dengan Pendidikan, mereka bukan menunjuk sebuah lembaga pendidikan yang disebut sekolah, tapi integrasi pendidikan mulai dari komunitas sosial paling awal dan utama, keluarga. Sangat disayangkan, tidak banyak yang menyadari pentingnya hal ini. Apakah sampai terlambat, baru semua orang akan menyadarinya? Tentang hal-hal yang hilang dalam proses penyederhanaan jaman digital...

Well, I'm curious...

Kamis, 03 Oktober 2013

Mentalitas Padang Gurun #3

"Saya ga sanggup, semua ini terlalu sulit. Permudah saja jika bisa"

Sering banget, terlampau sering, kita mikir bahwa keadaan terlalu tidak mendukung, atau suatu masalah terlalu sulit untuk kita tangani. Bisa dibilang, seperti kalah sebelum berperang.

Pengalaman saya adalah merasa takut terhadap suatu matakuliah, karena orang-orang bilang itu matakuliah sulit, rumit, dsb. Setelah dicoba? Well, ternyata terlalui juga.

Dari situ saya mulai belajar, tak ada hal yang terlalu sulit atau terlalu rumit untuk ditangani. Masalahnya adalah berapa besar harga yang harus dibayar untuk melaluinya.

"Bagaimana bila harga yang harus dibayar terlalu besar?"
Tak ada hal yang terlalu besar atau terlalu mahal buat diri kita, karena apa yang akan kita dapatkan adalah sebanding. Hanya perlu bersabar, apakah hal itu kita dapatkan langsung, di masa depan, atau untuk masa yang lebih jauh, masa 'life after life'

Tentang keterbatasan. Sebagai manusia yang terbatas, saya mengakui kadang tubuh dan pikiran kita mencapai batasan tertinggi kejenuhan. Tapi, ada Roh yang tidak terbatas apapun. Saya bukan bicara tanpa dasar, memang belum melakukan penelitian ilmiah tentang ini, tapi sudah melakukan pengamatan. Misalnya, ketika kita menyukai sesuatu, katakanlah berenang, walau lelah, jenuh, dsb ketika diajak berenang, pasti lupa sama keluhan2 tadi. Contoh lain, pulang kantor, capek, pegel, eh.. Ceweknya telpon minta jemput... Langsung cuss kan?
Nah, keadaan biasanya akan jadi sulit jika kita berusaha melakukan sesuatu dengan bebas tanpa mengandalkan pertolongan 'Roh' yang ada dala diri kita. 'Roh' siapa? Ya itu introspeksi aja sendiri.. Hahaha v( ‘.’ )v

Selain itu, perlu juga bersikap tegar. Kehilangan semangat dan lesu bukanlah pilihan, karena dalam usaha kita memahami 'mengapa semua ini sesukar ini' hal tersebut adalah pilihan paling mudah. Kehilangan semangat lalu menyerah, dan bye! Nggak banget kan?

Nah, dari situ saya sendiri sadar, perlu banget yang namanya mental pemenang. Mental pemenang itu bukan bakat bawaan lahir, tapi bentukan. Komunitas yang benar, pembaharuan kebenaran tiap hari, dan pengalaman dengan Tuhan.

Mulai dari mana? Mulai dari berhenti menjadi 'perengek' pada hari Senin. Hahaha so simple.. :p


Coming soon, mentalitas padang gurun #4

Mentalitas Padang Gurun #2

"Seseorang akan Melakukannya untukku, Aku Tidak Perlu Bertanggung Jawab"

Tanggung jawab sering banget dianggap beban, terutama oleh kita-kita yang baru napak di panggung kedewasaan. Mungkin seringkali digambarkan sebagai belenggu, bola dan rantai besi yang membatasi gerakan kita.

Beberapa dari kita, bisa berdamai dengan "tanggung jawab" si bola dan rantai besi itu, sehingga dari bola dan rantai besi itu tumbuh sayap yang membawa kita terbang tinggi. Tapi ga sedikit juga, kita-kita yang malah menyeret bola dan rantai itu ke tengah2 lumpur hisap, yang bikin kita terbenam dan makin terbenam tiap hela nafas.

Bagaimana kalo kita selama ini salah? Jika ternyata, tanggung jawab bukanlah unsur external seperti bola dan rantai yang bukan bagian dari tubuh kita tapi membelenggu?

Tanggung jawab itu masalah internal sob. Tanggung jawab bisa dibilang adalah RESPON kita terhadap peluang. Bertanggung jawab adalah menanggapi kesempatan yang disodorkan pada kita dengan benar.

Ketika disodori kesempatan, respon pertama biasanya adalah excited, antusias, bersemangat, dkk. Mudah untuk bersemangat dalam menanggapi kesempatan baru, kenapa? Karena hal itu baru, mendebarkan, dan adrenalin pasti berlipat. Respon ini benar, jika bukan hanya euforia sesaat, maka respon selanjutnya yang menentukan.

Saat antusiasme awal mulai meredup dan adrenalin mulai merosot, Apa Respon kita? Peluang sudah digenggam, tapi akankah dilepas begitu saja?
Banyak hambatan yang akan menghalangi kita untuk tetap merespon peluang itu dengan benar;

Gaya Hidup Malas
Seringkali kita harus didorong2, dibujuk2, dan diawasi oleh orang lain agar malakukan segala sesuatu dengan benar. Jelas, jika seperti itu, tak akan ada perkembangan yang terjadi pada diri kita, karena pengawasan dan dorongan kita berasal dari manusia lain dengan standar manusia, padahal ada 'Standar' yang lebih tinggi yang sudah ditetapkan pada kita. Yang harus dilakukan adalah lebih mengenal 'Standar' itu.

Tidak Serius
Ungkapan "ciyusss" sempat populer belakangan ini, dikalangan anak gaul masa kin haha.. Tapi, jika hanya sebatas "ciyussss" tapi tidak memberikan 100% fokus kita, satu kata dari saya, "bye!" Bye! Guys, seriously, you'll stuck on that point and never ever ever get to anywhere.

Menunda
Dulu, saya pernah berpendapat, "jika bisa besok, mengapa harus hari ini?" Dan taukah? Besok itu tak pernah ada. 'Besok' itu ilusi, karena yang ada adalah hari ini, saat ini. Saat waktu yang kita sebut 'besok' menjadi hari ini, 'besok' adalah 'besok'. Bingung? Begini deh, 'besok' itu seperti wortel yang diikat didepan keledai, mau dikejar kayak apa tetap aja ada di depan.

Tidak Siap
Selalu ada banyak kemungkinan dala setiap perkara. Apa salahnya bersiap? Lakukan tugas yang memang seharusnya kita lakukan, agar saatnya tiba, semua sudah siap. Sudah beres.

Tidak menggunakan potensi secara maksimal
Under estimate pada diri sendiri. Padahal, punya potensi yang sangat besar dan dapat dilipat gandakan. Kenapa tidak digunakan?

Begitulah, hal-hal yang biasa menghambat secara umum. Tapi bagaimanapun, respon adalah pilihan kita. Wajar, jika tersergap kekhawatiran dalam proses, apalagi dalam hal yang sama sekali kita ga ada bayangan. Tapi, serahkan kekhwatiran kita, bukannya menyerahkan tanggung jawab.
Ayo bertanggung jawab :D :D :D

*coming soon mentalitas padang gurun #3

Mentalitas Padang Gurun #1

"Masa depanku ditentukan oleh masa lalu dan masa kini"
Adalah benar jika kita berpendapat bahwa, hari ini berdiri diatas kemarin, dan hari esok berdiri diatas hari ini. Tapi, apakah masa depanmu ditentukan oleh masa lalu dan masa kini?

Saya rasa tidak. Memang, terkadang saya harus menanggung konsekuensi dari tindakan dan keputusan di masa lalu, tapi itu tidak menjadi masa depan saya. Itu adalah tanggung jawab dan bagian dari integritas diri.

Latar belakang, cara kita dibesarkan, kesalahan-kesalahan, kepribadian, kehidupan di masalalu pernah jadi bagian identitas kita. Tapi, terimalah kebenaran bahwa kita dibebaskan untuk menjadi pembebas.

Mulailah sebuah visi positif atas hidup, dan membina gaya pikir yang baru. Segala sesuatunya memang kadang terlihat mustahil, tapi ketahuilah, kita berbakti pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dari kehampaan. Serahkan kehampaan kita, dan ikuti tempo kerjaNya.

Mata untuk melihat dan Telinga untuk mendengar. Pertanyaan, melihat apa? Mendengar siapa? Pilihan yang harus dibuat adalah melihat dan mendengar 'idola' yang diciptakan dunia atau 'idola' sejati?

Sikap negatif terhadap diri sendiri dan masa lalu, pikiran yang buruk, tanpa sikap berterima kasih, perselisihan, dan iri hati, jika direnungkan akan membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa sebenarnya tidak ada masalah yang terlalu rumit, hanya saja diri kitalah yang menjadi masalah terumit.

Sekarang, "menengadah"lah dan tatap masa depan dengan cara yang positif dan antusias.


*Mentalitas padang gurun #2 coming soon

Gratisan dan Tanggung Jawab

"Yang gratisan tuh yang paling enak"
"Gratis ini, nothing to lose lah"

Kalimat-kalimat di atas, cukup akrab ditelinga, apalagi semenjak memasuki kehidupan mahasiswa yang maha irit. Haha..

Selama ini, kalimat-kalimat tentang 'gratisan' gak pernah terlalu menggelitik untuk gue bahas. Tapi, suatu kejadian di suatu sore yang cerah, membuat gue tertarik.

Kejadiannya begini, adik gue yang saat ini kelas 6 SD, ngambek dan menolak setengah mati, waktu disuruh belajar. Sampe nangis-nangis. Padahal, gue dengan bersemangat bersedia untuk jadi tutor dia, disela-sela waktu gue yang sangat langka ada di rumah. Gue tau, dia memang pintar dan kemampuan belajarnya jauh di atas rata-rata. Tapi, practice makes perfect, right? Selama bisa belajar lebih kenapa harus membatasi diri? Lagian jarang-jarang gue ada di rumah dan jadi tutor dia.

Karena sampai terjadi pertumpahan air mata, akhirnya emak turun lapangan. Dengan bijak beliau berkata pada ade gue, "Iel, untung loh.. Orang-orang berani bayar mahal kakak untuk ngajarin. Iel gratisan malah nggak mau."

Dari situ, gue tertarik sama kata 'gratisan'. Gue jadi teringat sama makhluk-makhluk yang ngakunya pelajar tapi saat jam sekolah malah nongkrong di sudut-sudut tertentu sambil bakar rokok dengan gaya paling oke sedunia. Padahal masih pake celana biru atau abu-abu, bahkan beberapa masih merah.

Pemerintah udah netapin program 'wajar 9 tahun' dan katanya akan dikembangkan jadi 'wajar 12 tahun', which is mean, sekolah gratis untuk semua sekolah negeri dari tingkat dasar sampai menengah pertama.

GRATISAN cooy.. Tapi, kelihatannya malah menghilangkan tanggung jawab ya. Mungkin, beberapa berpikir 'nothing to lose' kali ya.. Karena gratis, tak ada beban yang ditanggung.
Karena gratis, ya santai aja, orang tua juga ga akan nuntut apa-apa.
Karena gratis, tenang saja, nambah setahun lagi juga ga rugi-rugi amat.
Karena gratis...

Sejujurnya, tiap kali bertemu dengan pelajar tipe itu, gue pengen nimpuk kepala mereka pake telur, sambil bilang "Ini kepala isinya apa sih?" Tapi, berapa banyak telur yang bakal gue butuhkan? Mungkin persediaan telur kota bandung untuk satu tahun pun ga cukup. Karena populasi makhluk yang ngakunya pelajar itu terlalu banyaaaak.

Gue bukan mau bilang bahwa pendidikan dan bersekolah itu diatas segalanya, kok. Secara jujur gue juga mengakui, kadang di kelas gue ga dapet apa-apa, kadang yang gue dapet juga cuma teori-teori yang nggak napak bumi, kadang gue bahkan merasa guru/dosen di depan kelas bicara pake bahasa manusia yang udah punah.
Gue pun mengakui, kesuksesan tidak dijamin dari kesuksesan akademik di sekolahan, dan kualitas manusia tak diukur dari tingginya pendidikan.

Tapi, sudah saya sebutkan sebelumnya, kalau ada kesempatan untuk belajar lebih, mengapa harus membatasi diri. Gue sangat-sangat menghargai, orang-orang yang 'drop out' dari pendidikan formalnya untuk mengejar dan mendalami bidang lain yang menjadi 'passion'nya. Gue bahkan mengagumi mereka.
Tapi, untuk mereka yang sengaja membolos hanya untuk nangkring di pojokan mana sambil melakukan hal-hal yang merugikan, gue bener-bener gemes.

Gratis loh, masih gratis untuk tingkat pendidikan menengah pertama, bahkan beberapa tingkat menengah atas juga gratis.

Dan yang paling bikin bingung, ketika biaya pendidikan tinggi, semua turun ke jalanan untuk protes, tapi yang udah dikasih gratisan malah disia-siakan.

Sungguh disayangkan.

Senin, 27 Mei 2013

The Legend of Roro Jonggrang (Prambanan Folktale)

I'm addicted to  legends and classic stories right now. Have no idea why. But, here I'll bring you  a story about irony, love, dedication, and trick.

Here we go...

Once upon a time, there was a great kingdom named Prambanan. The King was Prabu Baka who lead the kingdom wisely. His leadership was great that the area around prambanan was obeying and respecting him so much.

Meanwhile in other place, there was a kingdom as great as Prambanan, named Pengging Kingdom. Pengging Kingdom was known, as an arrogant kingdom that always tried to extent their domain. Pengging Kingdom had a very strong knight called Bondowoso

Bondowoso had a magical weapon called Bandung, so that he is famous as Bandung Bondowoso till these days. Besides of having that Badung, He also had a force of Genies and Demons. That was the reason why Bondowoso always win the war and able to conquer others land easily.

Then, one day, The arrogant King of Pengging called Bondowoso and gave him an order to attack Prambanan. The next day, Bondowoso called his force of Genies and Demons, then they was off to Prambanan.

Arrived in Prambanan, They assaulted the palace soon. Prabu Baka was shocked, He and his man was unprepared. Then, Bondowoso successfully conquer the Prambanan land. Prabu Baka was died in Bondowoso's hand.

The winner of Bondowoso and his force made King of Pengging very happy, than he gave a mandate to Bondowoso to rule the Prambanan area, and of course, about taking over the palace.

When Bondowoso went around the palace, he accidentally meet Roro Jonggrang, a beautiful daughter of Prabu Baka. Bondowoso suddenly fell in love with her and propose her to be his wife.

Roro Jonggrang who asked for a marriage by Bondowoso, she was very troubled, because of her hatred towards him. She was really hate Bondowoso for killing her beloved father, but she was too much afraid to refuse the proposal. Finally, after a sort time of thinking, Roro Jonggrang found away to cancel the marriage.

She told Bondowoso to fulfill her wish to build a thousand temples and two wells over night. Right after listened her wish, Bondowoso agreed, he thought that was a very easy thing to do, he had the Genies and demons force, though. Then when night fell, Bondowoso started the work. The Genie and Demon force, did the work in a very sort of time. When the dawn was yet to come, the work was almost done.

Roro Jonggrang watched the work, and started to worried. When the dawn was yet to come, the rest to do was only three temples and a well. Roro Jonggrang started to think hard, how to stop the work, so, Bondowoso should cancel the marriage for disabled to fulfill her wish.

Roro Jonggrang was a clever woman, though. She found a way, if the dawn was yet to come, then she would make the dawn came earlier. Then, She called every servant and maid in the palace and told them to burn the straws, hit the rice-mortar, and make the situation as it was morning already.


Every servant and maid did as what Roro Jonggrang told them. The roosters, hearing the noise of them, started to crow. Listened to the noise and the roosters, the genies and demons stopped their works and left.

Bondowoso saw the genies and demons left the area, and he tried to stop them, but they were not listening. In desperation, Bondowoso tried to finish the work all by his self, but the time was never enough if he did it all alone. So, Bondowoso was not fulfilling Roro Jonggran wish and had to cancel the marriage.

Roro Jonggrang came to Bondowoso to make sure about the marriage cancellation. But Bondowoso was too much upset, and cursed her to be the thousandth temple.

The curse worked, and Roro Jonggrang became a statue that fulfilled the thousand temple. Bondowoso left regretting himself that had been so reckless and emotional, that made person he loved a statue.

Now, the temple is called Roro Jonggrang temple, and the other temple called Candi Sewu, or thousand temples. The temple block is called Prambanan Temple

Minggu, 28 Oktober 2012

Senyum

"Air mata palsu menyakiti orang - orang terkasih, sementara senyum palsu hanya menyakiti diri sendiri"

Gue pernah denger atau baca ungkapan itu entah dimana. Gue berharap kondisi semacam itu gak akan pernah terjadi pada diri gue, dan kalian wahai para pembaca. :D. Seandainya, kita harus meneteskan air mata, semoga itu air mata sejati dan murni 100% yang bening dan berkilau kayak permata (cc: 49 days). Dan seandainya kita terenyum juga, itu merupakan tersenyum yang tulus dan senyum bahagia dari lubuk hati yang paling dalam.

Tapi, kalau terpaksa, harus pake topeng, gue harap gue bisa pake topeng tersenyum itu. Bukan, gue bukan masokis yang hobi nyakitin diri sendiri. Tapi, jujur, daripada harus nyakitin orang-orang disekitar gue, gue lebih baik sakit sendiri.  Yah, gue cukup optimis dengan kemampuan penyembuhan diri gue, gue pasti bisa recover dan nanggung semua itu. Karena gue yakin, gue nggak di desain jadi "Thin Ice princess" yang super rapuh, dan ga boleh kena panas atau benturan.

Yeah~ just saying We are tough, darl'. Never underestimating your self. *but never overestimating ,too..

Sabtu, 27 Oktober 2012

Melihat punggung

Gue bisa melihat punggung orang-orang yang tadinya berada di sekitar gue.

Tadinya gue pikir, gue ditinggalin. Tapi waktu gue refleksi, gue sadar bukan mereka yang ninggalin gue tapi gue yang berhenti. Gue melihat sesuatu, sesuatu yang sangat menarik perhatian gue, sesuatu yang sangat mempesona, yang bikin gue seakan terhipnotis, dan tanpa sadar gue berhenti dan malah menikmati hal itu dari kejauhan.

Sekarang yang bisa gue lihat adalah punggung orang-orang yang tadinya berada di sekitar gue. Tapi, gue merasa, hal yang sangat menarik itu, belum saatnya gue tuju, belum saatnya gue keluar dari track gue dan menghampiri hal yang sangat mempesona itu. Jadi, dengan segenap kekuatan gue, gue mulai balik lagi melihat ke depan dimana orang-orang udah jauh di depan sana. Gue langsung ngejar mereka dengan full-speed.

Setelah gue berhasil sejajar lagi sama orang-orang itu, gue dihadapkan sama kenyataan aneh lucu tapi 'manusia' banget. Orang-orang yang gue pikir musuh gue dan selalu menjegal gue sewaktu kita start dan sejajar dulu, mereka menerima gue dengan senang dan nepuk punggung gue, seolah ngasih kekuatan untuk cepat menyelesaikan track ini dan langsung mengejar hal yang menakjubkan yang aku lihat sampai harus menghentikan langkah kemarin.
Sementara, orang-orang yang dulu gue pikir selalu ada disekitar gue, seolah mereka selalu menopang gue, menepis lambaian tangan gue waktu gue berhasil catch up. wah, sedikit ga nyangka tapi nyangka sih, well, this is a real life. :D

Tapi keputusan gue udah pasti, apapun kondisinya, gue bakal cepet nyelesein track ini, dan menghampiri hal yang bersinar dan sangat memesona itu. Oshh!

Minggu, 16 September 2012

Perbedaan dan Harmoni

Gue seneng tinggal di Indonesia, dengan pluralitas yang sangat mengagumkan dan toleransi yang sangat mengharukan.

Pengalaman gue;

2 hari lalu, tepatnya Jumat 14 september 2012.

Gue ada di masjid. (gue agama lain) Ngapain gue di masjid? Gue lagi ikut pelatihan pengisian data emis untuk pendataan madrasah-madrasah dinniyah dibawah Kemenag. Well, sesaat sebelum pelatihan mulai, tepatnya ketika orang-orang belum datang, karena gue datang lebih awal, gue deg-degan banget! I swear, gue takut diusir kayak lalat! hush.. hush.. walaupun itu bukan pengalaman pertama gue nongkrong di masjid, tapi gue bayangin yang gue hadapin bakalan sekelompok ibu-ibu dan bapak-bapak super fanatik yang suka ngajar ngaji dan ga mau ada gue yang masih muda, belia, bercahaya, (oke that's enough) dan beda agama.

Kenapa gue bisa ikut pelatihan? well, di lingkungan rumah gue, madrasah dinniyah al-h*da itu pengurusnya ga terlalu catch up sama teknologi, dan ga punya fasilitas, dan gue sebagai warga yang baik, ketika diminta tolong, dan gue bisa, ada waktu, dan punya fasilitas sih oke-oke aja, lumayanlah ngamal...

Oke baik lagi, ke gue 2 hari yang lalu yang udah keder abis. Sejam dari waktu yang dijanjikan barulah para ustad dan ustadzah pengurus Madin (madrasah dinniyah) yang lain berdatangan (ngaret -___-) gue kan duduk di bagian cewe, kan duduknnya misah ya.. waktu tuh ibu-ibu datang dan nyalamin gue, mereka mandangin gue dari rambut sampe kaki (penampilan gue: ga kerudungan, rambut terurai dengan jenaka, pake kemeja, pake sweater tipis, pake jeans, dan lagi buka 9gag di laptop) dan gue bisa melihat tatapan sinis yang menggoda.. haha.... peace...

Gue diem aja, makin kederlah... dan mulai meratapi nasib dalam hati... Tuhaaan... teleportasi please.... berharap tiba-tiba ada portal gitu.. haha..


Dan situasi mulai berubah ketika, para ibu-ibu itu gak bisa men-setting modem mereka!! wooohoooo!! time to show up! Don't worry be happy, ibu-ibu miss fleur is here! Dengan sabar dan dengan sikap seorang pendidik, gue mulai nyetting modem di laptop mereka satu per satu...

Merasa terbantu, mereka yang ternyata udah tau kalo gue beda agama, mulai kelihatan 'jinak' hehehe... mungkin, mereka mulai percaya, kalo keberadaan gue disitu bukan untuk mengacau... hahaha... dan gue mulai tenang tentunya.

Dan setelah berbagai proses dalam pelatihan itu, gue mulai mengenali sikap mereka, mereka memang religius, tapi tidak fanatik dan bla-bla-bla, gue rasa itu cuma pencitraan yang buruk oleh beberapa hal, istilahnya asumsi. Dan setelah chit-chat dan bercanda sana-sini dan belajar bareng di pelatihan itu (well, mungkin gue lebih kayak pemateri deh... coz materi pelatihannya... yeah... gitu deh) gue menyimpulkan suatu hal, bahwa perbedaan jika dirangkai dalam komposisi yang tepat itu pasti menghasilkan harmoni yang sangat indah. Dan bukan hal yang mustahil, bahwa NKRI selamanya akan tetap NKRI. :D

Diskusi warung kopi dan debat kusir

SARA, bukan hal yang layak diperdebatkan.

Gue inget banget itu adalah aturan paling keras waktu jaman gue latihan lomba debat. Pembimbing gue bahkan bilang dengan tegas, bahwa sebutuh apa pun kita akan evidence untuk memperkuat argumen, hal-hal yang berhubungan dengan SARA itu haram hukumnya dilibatkan.

Tapi, gue heran sama media masa yang makin sini, makin hobi bahas-bahas tentang sara, ketika ada berita yang berhubungan dengan sara, ya sudah jadikan saja itu sebagai sebuah informasi. Gue rasa, ga perlu topik-topik yang begitu dibawa ke forum debat, atau forum diskusi, disiarkan secara langsung pula.

Gue gak habis pikir, hal-hal yang kayak gitu, bisa lolos tayang. padahal, menurut gue tayangan forum diskusi dan debat yang nyenggol-nyenggol sara itu merupakan ancaman bagi kesatuan bangsa dan negara.

Mungkin, suatu saat nanti jika orang-orang di negeriku ini sudah lebih modern dan dewasa cara berpikirnya, mungkin akan mengerti, bahwa debat dan diskusi yang bahkan cuman nyenggol dikit soal sara, ga akan pernah berakhir, ga ada ujungnya, dan akhirnya? cuman jadi diskusi warung kopi atau debat kusir yang dilakukan secara elit di tempat elit dengan wardrobe elit, dan disiarkan langsung.

Yaah.. mau apalagi, memang banyak yang masih harus dibenahi, ayo mulai berbenah... :D

Sabtu, 15 September 2012

Bohan-bohan, Sayur Dalam Bambu

Makanan lagi nih, masih makanan karo, namanya bohan-bohan. Ada yang pernah denger? pernah makan? Apa coba bohan-bohan? masih inget rires (read my last post)? cara masak bohan-bohan ini mirip sama rires, tapi yang membedakan adalah... jeng-jeng-jeng... isinya, kalau rires isinya beras ketan dengan bumbu rempah-rempah, Isi bohan-bohan adalah, sayur dan daging cincang, nyammmm....

 Bahan utama bohan-bohan:
-. Batang pisang kepok atau pisang batu, yang masih muda dan cuma bagian tengahnya aja lho..
-. Daun singkong
-. Kelapa parut
-. Daging

Semua bahan utama diatas dicincang ya, ga usah terlalu halus tapi jangan kasar-kasar juga.

 Bumbu
-. Bawang merah dihaluskan
-. Bawang putih dihaluskan
-. Bawang daun dicacah
-. Kunyit (sedikit) dihaluskan
-. Kemiri (sedikit) dihaluskan

Most Important stuff:
-. Daun Pisang
-. Bambu
-.Bara api/ api unggun

Oke, kalo semua bahan, bumbu, dan alat sudah siap, mulai deh,
1. bahan dan bumbu dicampur sampai rata
2. masukin bahan dan bumbu yang udah tercampur ke dalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang.
3. Deketin deh ke api kayak masak rires atau lamang atau lemang tapi ga usah sampe 6 jam, cukup sekitar 1-2 jam aja.

Kalo udah siap dikeluarin dan disantap, nyammm... well, emang sih kalau udah jadi dan ditaro dipiring tampangnya agak-agak gimana gitu soalnya kan semua bahannya dicincang2 gitu, tapi no worries, enak kok... :D

Bohan-bohan ini makanan khas suku karo yang biasa disajikan waktu pesta panen atau kerja tahun (pesta tahunan, kalau di keluarga gw sih, tanggal 17 agustus), atau pesta lain yang bernuansa gembira.

P.s: sorry banget blm ada gambar, kemaren tuh ada bohan-bohan tapi gw lupa ambil gambar, next chance pasti gw lengkapin, hohohoho...

Senin, 13 Agustus 2012

Lemang, Lamang, atau Rires

ketan hitam
ketan putih
Lagi-lagi tentang makanan, kali ini kita akan bahas mengenai lemang (batak) atau lamang (padang) atau rires (karo). Apaan tuh? ya makanan lah.. kan tadi udah dibilang tentang makanan.
hehehe.. off to our main topic.




daun pisang
bambu
 Naah, makanan ini, kita sebut salah satu aja lah ya, cape klo semua disebut, berhubung saya dari suku karo, kita sebut saja rires. Rires ini adalah makanan yang bahan dasar utamanya adalah beras ketan. gaulnya mah pulut. Si beras ketan ini, di olah dengan santan, garam, daun pandan ,dan beberapa rempah-rempah, dimasukin ke dalam ruas bambu yang didalamnya udah dilapisin daun pisang.. Yang bikin agak ribet, masaknya bukan dengan kompor, atau dibakar langsung tapi, lebih tepat kalo dibilang didekatkan ke api gitu deh... ngerti gak? Jadi intinya, si bambu yang sudah berisikan beras ketan yang sudah diolah itu, dimasak dengan menggunakan api, tapi gak kena langsung ke apinya, paling banter cuman kena jilatan-jilatan api gitu. Nah, gara-gara itu, jadi waktu masaknya agak lama sob... kurang lebih 6 jam, boleh lebih... karena katanya, makin lama dimasak, makin tahan lama. Yaah.. asal jangan sampe gosong aja.. Oia, beras ketan yang digunain bisa yg hitam atau putih, tergantung selera. tapi lazimnya pake yang putih.



rempah-rempah
 Rires ini ada dimana-mana, Aceh, Medan, Padang, Kalimantan, dll. Perbedaannya adalah cita rasanya, yang berasal dari penggunaan rempah-rempah, jadi beda daerah beda rasa. Di Aceh, riresnya pake bawang putih. Kalo di Medan, suku karo dan batak menambahkan, bawang putih dan merica. Kalo di padang, cuman pake santan doang. Kalo yang di kalimantan, riresnya orang dayak, saya ga tau, belum pernah nyobain, kalo ada yang mau kasih, diterima dengan senang hati kok :D.
 Nah, itu resep rires original, sudah bisa tebak kan cita rasa utamanya pasti gurih.

Tapi, sekarang udah ada yang mencoba membuat terobosan baru, yaitu rires manis, dengan berbagai isi, misal pisang, stroberi, dll.. ide yang bagus, tapi saya ga tau enak apa engganya ya, belum pernah nyoba, Sekali lagi, kalo ada yang mau kasih, diterima kok.. :D. 

Nah, di Bandung, kalo mau cobain rires/lemang versi batak, ada di depan GBKP jalan lombok, n depan HKBP jalan Jakarta setiap hari minggu. Kalo yang versi Padang ada di jalan terusan jalan jakarta, yang udah deket arcamanik itu lho, sekitar depan terminal antapani, di gerobak tulisannya "LAMANG TAPAI" setiap hari, kayaknya. Monggo yang penasaran bisa dibeli.

new update 26/10/2012 : di dipati ukur juga ada, gue lupa namanya, tapi kalo ga salah yang jualan lontong sayur medan gitu, dan riresnya uenak banget, most recommended deh.

Senin, 06 Agustus 2012

Perubahan

Berubah! Apa? macam ksatria baja hitam atau power rangers? kayaknya bukan, perubahan tidak berlangsung dengan logika yang begitu.

Manusia berubah, seiring waktu dan proses dalam kehidupan kita. Gue liat, teman-teman dari yang paling saya kasihi sampai yang paling saya hindari, semua berubah dan berkembang. Ada yang menjadi semakin indah, ada yang masih dalam proses deformasi. yah.. kita ga boleh menyimpulkan hal yang buruk, it's judging -u know?

Well, mungkin tanpa disadari dan seringkali gue sangkal, gue banyak berubah.. Bukan sebatas fisik yang berubah, tapi juga mimpi, cara pandang, sikap, pola pikir, kepribadian, dan masih banyak lagi.Oke, gue akui tinggi gue nggak berubah sejak SMA, tapi yah... sudahlah, Berbagi mengenai perubahan, penting atau ga penting, bukan urusan gue, tapi mungkin berguna, buat gue sebagai refleksi, buat elu ya tersera elu.

Idealisme, sebagai seorang yang idealis dulu gue selalu bertindak spontan, cenderung berbahaya. Gue gak kenal kompromi, apa yang ideal, itu yang gue perjuangkan, bahkan gue nyoba nyebarin ideal gue ke orang disekeliling gue, hal yang gue sadari sekarang, konyol banget. Sekarang gue sadar kita hidup di dunia nyata, there's no perfection here! Perjuangan gue beralih bukan membawa ideal gue ke dunia nyata, tapi menyatakan ide gue dengan sumber daya yang ada. Imajinasi gue mungkin emang perfect, but it's too good to be true.  mungkin buat beberapa orang Impossible is nothing  adalah jargon hidup mereka, dan jargon hidup gue dulu, tapi sekarang gue belajar dan gue mengerti bahwa memang, tak ada yang tak mungkin, tapi semua itu masih kemungkinan. Be real, effort is the way. And if it's not work, then we must try something different. Intinya, jangan maksa tidak semua hal harus sesuai dengan imajinasi kita.

My Experience? Oke, Kampus gue, tempat gue menimba ilmu pendidikan dan matematika sekarang ada di urutan paling bawah dari daftar pilihan universitas yang gue minatin. Dan, menurut gue standar otak gue yang sangat brilian ini,  yeah, you know, I was over-estimating my self, ga akan pernah nyangkut di universitas yang menurut gue nggak gengsi begini, Apalagi jurusannya cuma matematika, yang yeah menurut gue waktu itu, salah satu bidang yang paling lambat perkembangnya di abad ini, gak kayak teknologi gitu, yang tiap detik berkembang. well, keep mocking, I was a dumb dumb. Gue keukeuh bakal masuk fakultas kedokteran atau teknik informatika di universitas atau institut paling favorit di indonesia ini, bahkan gue udah ngincer MIT. Well, bisa dibilang, gue super sombong, narsis, dan terlalu luar biasa imajinasinya. But, that was me, with motto "Impossible is nothing" gue ikut, satu ujian umum, ya gue cuman ikut sekali ujian karena gue rasa gue ga perlu ujian berkali-kali. 2 pilihan, pertama si kedokteran itu, yang kedua, tadinya gue ga mau isi tapi karena mama nyuruh gue isi, ya gue isi aja sesuai dengan saran beliau. Pendidikan Matematika, di kampus gue yang sekarang. Dan seperti yang biasa terjadi sama orang yang gede kepala, gue keterima di pilihan kedua, pilihan yang gue isi saking nurutnya gue sama ortu.

Hari pertama gue ngampus, yang ada diotak gue adalah WHY?! WHY GOD? WHY? dan why? why? syndrome gue itu, bertahan sampe 4 semester! tapi makin lama, why?why? syndrome-nya makin berkurang, gak sebanyak dan segila awal gue ngampus.  IP gue, kayak antara ada dan tiada, makin lama makin turun, padahal why?why? gue makin berkurang. Setelah refleksi, gue sadar biarpun why/why? syndrome gue makin berkurang, gue masih tetep kekeuh sama ideal gue. Intinya, hati, pikiran, dan perasaan gue gak ngikut tipa kali gue ngampus. Buku dan diktat aja gue beli terus-terusan tanpa pernah gue sentuh. Dan seakan ditampar tangan yang tak terlihat, gue dapet E dan D, masing-masing 2 di 4 mata kuliah. kebayanglah, IP gue udah kayak apa. Untungnya, gara-gara itu ED, gue jadi sadar, bahwa bukan waktunya lagi gue why?why? syndrome. Waktu gue udah kebuang 4 semester, dan kayak yang elu tebak, gue tetep aja gagal jadi masuk kedoteran. Apa ya? oh, dan sekarang waktunya gue realistis menghadapi apa yang ada di depan gue. MATEMATIKA. Gue udah berusaha mengejar mimpi gue, tapi, mimpi itu bukan untuk gue, saatnya gue beralih, menjadikan matematika sebagai mimpi gue yang tak terduga.

Dan, yang gue tahu dengan pasti hal ini, gak cuman menimpa (-_____-;) diri gue, tapi juga setiap orang diluar sana, se-perfect apapun keliatannya kehidupan seseorang, percayalah, itu cuman asumsi elu aja, kalo hidup orang itu perfect. Jadi, mulai sekarang, kalo gue sih udah dari kapan taun, hidup di dunia nyata and live the life. :D

Selasa, 27 Desember 2011

11 kualitas pribadi pemimpin (Part2-end)

Oke, setelah tertunda beberapa lama, sekarang kita lanjut tentang 11 kualitas pribadi pemimpin itu, here we go...

6. Integritas

Integritas (Integrity) adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini. Dengan kata lain, “satunya kata dengan perbuatan”. Mengkomunikasikan maksud, ide dan perasaan secara terbuka, jujur dan langsung sekalipun dalam negosiasi yang sulit dengan pihak lain. Atau bisa juga disebut bahwa seorang pemimpin tidak munafik. Sangat menyebalkan jika kita memiliki pemimpin yang bermuka dua, bukan?

7. Rasa tanggung jawab
Rasa tanggung jawab sangat menunjang kepribadian pemimpin. Rasa tanggung jawab membuat seorang pemimpin akan lebih berahati-hati dalam pengambilan dan eksekusi sebuah keputusan. Kita tidak butuh pemimpin yang sangat berani dalam pengambilan keputusan tapi kemudian lari dari tanggung jawab. Rasa tanggung jawab juga membuat seorang pemimpin memikirkan anak buahnya. Karena seorang pemimpin tidak pernah bekerja untuk dirinya sendiri tapi selalu untuk orang banyak.

Tapi, rasa tanggung jawab bukan berarti membuat seorang pemimpin menjadi sangat berhati-hati dan jadi takut dalam pengambilan keputusan. Hanya saja, tetap harus berpikir tentang segala konsekuensi.


8. Sifat bisa diandalkan

Setiap orang butuh seseorang untuk diandalkan atau dipercayai disaat-saat yang kritis. Walaupun, saat-saat kritis itu mungkin tidak terjadi, tapi kita butuh jaminan bahwa akan ada seseorang yang bisa diandalkan untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak perlu mengatasi secara langsung, hanya meng'cover' sebentar agar rasa syok kita tidak terlalu menghancurkan.

9.Loyalitas (pada atasan maupun bawahan)

Bagaimana jika kita dipimpin oleh orang yang terus-terusan menjelek-jelekan dan mengeluh tentang anda didepan orang lain, Atau dipimpin oleh orang yang akan kabur begitu melihat sesuatu tidak beres, Atau dipimpin oleh orang yang menyalahkan orang lain (apalagi kita sendiri) ketika ada hal-hal yang tidak beres, Atau dipimpin orang yang selalu menjelek-jelekan atasannya?

Jika anda disuruh memilih satu kondisi dari kondisi yang ada di atas, mana yang akan anda pilih? Pilihan yang berat bukan? Pemimpin yang loyal akan selalu berada bersama orang yang dipimpinnya dan patuh pada atasannya. Bila terjadi slag antara atasan dan bawahannya, iya akan jadi penengah yang baik, memperjuangkan hak-hak bawahannya dan tetap menjaga wibawa sang atasan, bukannya malah menjadi pengipas arang.

10.Antusiasme

Mengeluh. Ketika berhadapan dengan orang yang selalu mengeluh, apa yang merasuk dalam pikiran anda? Apakah anda akan menjadi bersemangat dan tempo kerja anda meningkat? Atau segalanya menjadi terlihat negatif dan suram sehingga tempo kerja anda menurun. (Atau anda tidak terpengaruh sama sekali? bagus kalau begitu.)

Bagaimana jika dipimpin oleh seorang pengeluh yang terus-terusan mengeluh sepanjang hari, "kenapa begini, kenapa begitu, harusnya begini kamu kurang ini, kurang itu, ini buruk sekali, Oh, segalanya hancur sudah."
Apakah anggota team akan:
a. Bertambah semangat, terpacu dan memperbaiki segala sesuatunya?
b. Stress dan beban kerja terasa berkali-kali lipat?
c. Frustasi lalu melompat dari atap gedung?
d.Tidak peduli (yah, si bos selalu begitu--)

Antusias juga tidak perlu berlebihan. Anda datang dengan senyuman iklan pasta gigi, sambil berjalan dengan setengah melompat-lompat dan menyanyikan lagu 'aku bahagia, mari kita bekerja dengan riang gembira hari ini'. Hei.. itu mengerikan!

Yang diperlukan adalah rasa syukur yang terlihat atas segala pekerjaan yang harus dilakukan, hasil-hasil yang telah dicapai, dan semangat dalam bekerja. Bilapun ada hal-hal yang harus diperbaiki, tidak perlu dilakukan dengan emosi atau dengan frustasi, lakukanlah dengan sikap yang antusias dengan hasil yang sudah ada tapi dengan keyakinan bahwa anda dan rekan-rekan ataupun bawahan anda dapat melakukan yang lebih baik.

11.Inisiatif

Inisiatif (Initiatif) merujuk kepada: 1) identifikasi masalah, hambatan atau peluang dan 2) mengambil tindakan untuk menjawab masalah atau peluang saat ini atau masa datang. Dengan demikian, inisiatif dapat dilihat dalam konteks bertindak proaktif dan bukan sekedar berpikir tentang suatu tindakan di masa datang.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Well, ada seseorang yang pernah bertanya pada saya begini "Kamu, berani ngepost hal-hal tentang kepemimpinan, memangnya kamu merasa sudah sangat berjiwa pemimpin? awas, ntar kena batunya lho!"

Buat beberapa pembaca yang pernah berpikir begitu, ya saya jawab sekarang. Begini, bukan berarti saya adalah super leader dengan kualitas super duper. Saya juga masih manusia, and nobody is perfect, right? Tapi sebagai manusia saya selalu berproses, dan dalam proses itu saya belajar banyak hal, sampai kapanpun saya masih terus harus belajar. Karena proses yang dilalui setiap manusia tidak pernah persis sama, saya hanya ingin berbagi apa yang saya dapatkan. Bagi yang tidak mau dibagi, ya sudah, ga usah diambil :)

Jumat, 18 November 2011

Revolusi?? Siapa punya solusi?

Berawal dari status facebook salah seorang sahabat mengenai ke-konta-an dirinya mengenai revolusi. Saya jadi teringat kata-kata dosen pendidikan kewarganegaraan yang selalu mencoba untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan sikap kritis mahasiswanya. Teringat juga dengan tempelan-tempelan di dinding kampus yang meneriakkan berbagai permasalahan bangsa dan satu tag line yang tidak pernah berubah. "Masalah ekonomi/sosial/budaya/politik??" terus tag linenya "Islam punya solusi!"

Well, gue (nah, jd pake gue dah,biarin lah ya?) gak masalahin agama atau apapun ya, itu sih terserah lo-lo pade aje, coz agama tuh urusan masing-masing right?

Tapi, yang gue sayangkan, itu tuh cuman sekedar tulisan didinding dan sebuah diskusi 'panas' di akhir minggu! sayang banget! Guys, I tell you. Kalo lo emang punya solusi ambil kertas bikin mini paper atau artikel ilmiah lu publish dimana-mana. Lo kirim ke koran, post di blog share di fb, twitter, dll! it's so easy right?

Then let the public judge! Kalo emang solusi lo sesuai dengan kepribadian bangsa, pancasila, bhineka tunggal ika, dan konstitusi. Why not?

Andai gua udah bisa mikirin suatu solusi yang brilian, gue janji gue langsung bikin tuh mini paper dan gua publish se maksimal mungkin. Masalah konsekuensi? well, itu sih harus siap dihadapin kan?

Selasa, 11 Januari 2011

11 kualitas pribadi pemimpin ( part 1)

Oke sesuai janji saya; kita akan ngebahas mengenai 11 kualitas pemimpin yang kemarin di terbitkan

1. Watak

Watak? Apa sih watak? Bukannya watak itu adalah kepribadian yang dimiliki sejak lahir?
Bukan! Bukan itu, Itu beda lagi.

Yang dimaksud dengan watak adalah, kualitas moral yang dimiliki satu pribadi yang mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak terutama pada hal-hal yang menyangkut antara benar dan salah. Dari pernyataan itu, jelas banget kalau watak itu bukan soal kepribadian tapi lebih kepada pola pikir dan moralitas kamu. Setahu saya, adaptasi poral kita berasal dari faktor eksternal, bukan faktor internal, jadi hal-hal seperti ini dapat kita kembangkan.

Caranya? Gampang aja, pernah dengar istilah 'Bergaulah dengan pembohong, maka kau akan menjadi pembohong. Bergaulah dengan orang bijak maka kau akan menjadi bijak' ? Saran saya, untuk mengembangkan moralitas anda menuju ke arah yang lebih baik, maka sebaiknya kita juga bergaul dengan orang-orang yang sekiranya bermoralitas baik pula dan adaptasi perilaku moral mereka yang baik itu. Bergaul dengan orang-orang yang berjiwa pemimpin, pelajari cara dan sikap kepemimpinan mereka. Dan ingat Practice makes perfect! Praktekkan juga sikap kepemimpinan dan moralitas yang udah anda adaptasi dari lingkungan! :)

2. Kekuatan keputusan

Hmm, kekuatan keputusan di sini bukan maksudnya keputusan yang anda buat harus terdaftar di badan hukum tertentu sehingga keputusan anda menjadi benar-benar kuat.

Maksud kekuatan keputusan di sini adalah, anda harus mampu untuk membuat keputusan yang mantap dan tepat pada waktunya. Lalu, ketika anda sudah membuat keputusan, anda pun harus percaya pada keputusan itu. Jangan sampai, anda sendiri meragukan keputusan yang udah anda buat. Kalau anda sendiri saja nggak percaya sama kekuatan keputusan anda, gimana orang lain mau percaya? Terakhir, tapi yang terpenting, kalaupun ternyata keputusan yang anda ambil tidaklah tepat, jangan pernah lari dari tanggung jawab. Bawahan anda dapat memaafkan pemimpin yang melakukan kesalahan, tapi mereka tidak akan pernah memaafkan pemimpin yang pengecut.

Ya, ya, ya.. memang ketika membuat sebuah keputusan yang mantap dan tepat, kita memang akan sesekali menjulurkan leher kita ke tempat pancungan. Tapi, kalau kita terus menerus mengelak dan menyerahkan leher orang lain, Entah kapan kita harus terbang sendiri.

3.Kebijaksanaan untuk merancang dan memerintah.

Begitu anda membuat keputusan, anda harus segera merancang rencana untuk menjalankan keputusan anda, membuat tugas yang pasti dan spesifik untu anak buah, dan anda harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu yang sering muncul dalam pengeksekusian suatu keputusan.

Tiba waktunya anda untuk mengeluarkan perintah. Perintah yang anda keluarkan haruslah mudah dipahami.
Berikut ini adalah petunjuk sederhana mengenai pembuatan perintah;
1. Gunakan kata-kata dan istilah sederhana
2. Konsentrasikan satu perintah untuk satu persoalan. Jangan pernah mencampuradukkan berbagai persoalan dalam satu perintah.
3. Kalau perintah itu dalam bentuk tulisan;
-. gunakan bahasa anda sendiri
-. Jangan cemaskan tata bahasa. (yang terpenting adalah perintah anda dimengerti)
-. Gunakan dan kembangkan gaya anda sendiri.
4. Jika anda memberi perintah secara lisan, selalu pastikan perintah itu diulang di depan anda.

4. Keberanian bertindak

Walaupun anda membuat keputusan yang mantap, memiliki rencana yang bagus dan memberi perintah yang brilian. Tujuan anda masih sangat jauh jika hati anda ciut untuk melakukan tindakan.
Ingat, pemikir yang cemerlang dengan hati yang ciut selamanya hanya akan terjebak dalam pemikiran-pemikirannya yang cemerlang itu, sampai suatu saat seorang yang licik tapi berani bertindak akan mencuri pemikirannya dan si licik itu akan sukses, sementara si pemikir yang cemerlang hanya akan mati membusuk.

Lakukanlah sesuatu, walaupun itu salah; daripada hanya berpangku tangan. Kalau anda tidak melakukan apapun tidak akan ada yang dapat diselesaikan. Sementara, bila anda melakukan sesuatu, walaupun itu salah, anda akan mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan anda, sehingga pada akhirnya anda akan melakukan sesuatu yang benar.

5. Kemampuan mengurus.

Kemampuan mengurus merupakan pendekatan sistematis menuju pencapaian tujuan spesifik.Tantangan yang anda miliki dalam kemampuan mengurus ini adalah ketika kondisi tidak sesuai dengan apa yang anda harapkan, misalnya; dana yang terbatas atau waktu yang sangat terbatas. Kemampuan anda benar-benar harus keluar pada saat-saat yang penuh tekanan seperti itu. Anda akan mendapat nilai lebih ketika pekerjaan anda selesai di kondisi seperti itu dibandingkan jika pekerjaan anda selesai dalam kondisi ideal.

Selain itu, anda pun harus mengenali dan mengerti mengenai apa yang anda pimpin dan siapa yang anda pimpin karena ketidaktahuan hanya akan mendatangkan cibiran dan rasa benci dari bawahan anda.

---------------------------------------------------------------------------------

Well, di postingan kali ini, saya memang baru bahas 5.. hehehe... selanjutnya, bisa ditunggu ok! ;)

Sabtu, 08 Januari 2011

11 kualitas pribadi pemimpin

Hello! it's me again! Fleur.

Well, postingan terakhir tentang menjadi pribadi yang lebih bersinar ya kan? Kali ini, kita balik lagi ke isu yang udah menjamur dari jaman kakek moyang kita menyandang gelar mahasiswa. Yep, apalagi kalau bukan kepemimpinan.

Menurut James K. van Fleet, ada 11 kualitas yang dimiliki pemimpin, ke-11 kualitas itu adalah:
  1. Watak
  2. Kekuatan Keputusan
  3. Kebijaksanaan untuk merencanakan dan memerintah
  4. Keberanian untuk bertindak
  5. Kemampuan mengurus
  6. Integritas
  7. Rasa tanggung jawab
  8. Sifat bisa diandalkan
  9. Loyalitas (pada atasan maupun bawahan)
  10. Antusiasme
  11. Inisiatif
Tenang, postingan kali ini g akan membahas mengenai kualitas itu satu persatu, nanti kualitas-kualitas itu akan dibahas dalam postingan terpisah :).

Oh ya satu hal lagi, pemimpin harus memiliki orang yang dipimpin kalau nggakanda memimpin apa? hoho, untuk itu, setujulah dengan pendapat Mark Twain "Anda harus berterimakasih pada orang yang penurut, sebab tanpa mereka anda tidak akan dapat maju."

Lalu, kamu mau jadi yang mana? Mau jadi penguasa? atau penurut yang jadi batu pijakan selamanya?

"Tapi, Ms.Fleur, saya nggak punya semua kualitas pemimpin itu, saya paling hanya punya dua atau tiga..."

waduh, pesimistis lagi ya... Hm.. Coba baca lagi deh, kalau menurut saya, kesebelas kualitas itu bukan sesuatu yang kita punyai atau kita bawa dari dalam kandungan. Kesebelas kualitas itu bisa dibina dan dilatih. Gimana caranya? Penasaran? tunggu posting selanjutnya! huahahahaha

About Me

Foto saya
Bandung, West Java, Indonesia
Thinking crazy, weird and uncommon is not a crime!